Dalam situasi darurat, niat baik seringkali didominasi oleh informasi yang salah, yang diwariskan secara turun-temurun dan tidak didukung oleh ilmu pengetahuan medis. Mitos Pertolongan Pertama ini bukan hanya tidak efektif, tetapi dalam banyak kasus, justru dapat memperburuk kondisi korban, menunda pengobatan yang benar, atau bahkan membahayakan nyawa. Penting bagi kita untuk menghentikan kebiasaan lama ini dan menggantinya dengan praktik yang teruji dan direkomendasikan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) dan otoritas kesehatan lainnya.
Salah satu Mitos Pertolongan Pertama yang paling sering terjadi berkaitan dengan penanganan luka bakar. Banyak orang masih percaya bahwa mengoleskan mentega, pasta gigi, atau minyak pada luka bakar dapat meredakan rasa sakit. Faktanya, bahan-bahan berminyak ini justru menjebak panas di dalam kulit, memperpanjang proses pembakaran dan meningkatkan risiko infeksi. Tindakan yang benar dan harus segera dilakukan adalah mendinginkan luka bakar dengan air keran mengalir bersuhu normal (bukan air es) selama minimal 10 hingga 20 menit. Pendinginan adalah satu-satunya cara efektif untuk menghentikan proses kerusakan jaringan dan mengurangi rasa sakit secara signifikan.
Mitos Pertolongan Pertama fatal lainnya adalah penanganan korban kejang. Banyak orang percaya bahwa saat seseorang kejang, lidahnya harus dicegah agar tidak tertelan, seringkali dengan memasukkan sendok, jari, atau benda keras ke dalam mulut korban. Tindakan ini sangat berbahaya. Benda yang dimasukkan dapat merusak gigi, gusi, rahang, atau yang lebih parah, menghalangi jalan napas atau menyebabkan korban menggigit jari penolong. Menurut pedoman neurologi darurat, yang diperbarui pada konferensi medis regional tanggal 8 November 2024, yang harus dilakukan adalah: Jaga Keselamatan Korban. Pindahkan benda keras atau tajam di sekitar korban dan letakkan sesuatu yang lembut (seperti jaket) di bawah kepala mereka. Biarkan kejang selesai dengan sendirinya. Setelah kejang berhenti, balikkan korban ke posisi pemulihan.
Mitos ketiga yang umum adalah perlakuan terhadap hidung berdarah (mimisan). Mitos Pertolongan Pertama sering menyarankan korban mendongakkan kepala ke belakang. Tindakan ini berbahaya karena darah akan mengalir ke tenggorokan dan perut, yang dapat menyebabkan mual, muntah, dan risiko tersedak, terutama jika korban sedang berbaring. Cara yang benar untuk menghentikan mimisan, sesuai arahan dari petugas medis di layanan gawat darurat (UGD) yang bertugas pada hari Jumat pukul 09.00 pagi, adalah: Dudukkan korban dengan kepala sedikit menunduk ke depan. Jepit cuping hidung (bagian lunak di bawah tulang hidung) selama 10 hingga 15 menit tanpa dilepas. Jika pendarahan tidak berhenti setelah waktu tersebut, cari bantuan medis.
Dengan mengganti praktik berdasarkan mitos dengan pengetahuan pertolongan pertama yang teruji, Anda tidak hanya meningkatkan efektivitas bantuan, tetapi juga memastikan Anda tidak sengaja memperburuk kondisi korban dalam keadaan genting.
