Perubahan iklim telah menjadi ancaman eksistensial, dan dampaknya paling terasa pada komunitas pesisir, di mana kenaikan permukaan air laut (sea-level rise) dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem mengancam mata pencaharian dan tempat tinggal. Palang Merah Indonesia (PMI) menyadari bahwa selain penanganan bencana cepat (Siaga Bencana), upaya mitigasi jangka panjang dan penguatan ketahanan masyarakat adalah kunci. PMI memegang peran vital dalam memfasilitasi Adaptasi Masyarakat pesisir terhadap dampak-dampak perubahan iklim, bertransformasi dari sekadar respons darurat menjadi agen pembangunan komunitas yang tangguh. Melalui program berbasis komunitas, PMI fokus pada Adaptasi Masyarakat yang mencakup edukasi, pengembangan sistem peringatan dini lokal, dan inisiatif berbasis ekosistem. Adaptasi Masyarakat ini menjadi fokus utama PMI dalam mendukung keberlanjutan hidup di garis pantai.
Edukasi Risiko dan Sistem Peringatan Dini Lokal
Keterbatasan pengetahuan tentang risiko adalah hambatan terbesar dalam upaya adaptasi. PMI bekerja untuk mengisi kesenjangan ini dengan memberikan informasi yang relevan dan dapat ditindaklanjuti.
- Peta Risiko Komunitas: PMI bekerja dengan warga setempat di desa-desa pesisir, seperti di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, untuk memetakan area yang paling rentan terhadap abrasi dan banjir rob. Pemetaan ini, yang dilakukan pada Mei 2025, menjadi dasar untuk perencanaan evakuasi dan relokasi.
- Sistem Peringatan Dini Lokal (Early Warning System / EWS): Karena ancaman banjir rob bisa datang tiba-tiba, PMI membantu komunitas membangun EWS sederhana, seringkali menggunakan teknologi berbasis suara (seperti pengeras suara masjid atau sirine lokal) yang terhubung dengan data pasang surut air laut yang disediakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Prosedur ini harus diuji coba setiap Tiga Bulan sekali untuk memastikan respons cepat.
Inisiatif Berbasis Ekosistem dan Penguatan Mata Pencaharian
Adaptasi yang efektif tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan ekosistem alami yang bertindak sebagai penyangga.
- Penanaman Mangrove: PMI secara aktif memimpin program penanaman kembali hutan mangrove di sepanjang garis pantai yang rentan. Hutan mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang meredam gelombang, mencegah abrasi, dan mengurangi dampak tsunami kecil, sekaligus menyediakan habitat bagi biota laut yang mendukung mata pencaharian nelayan setempat. Sebuah kelompok relawan PMI dan PMR Wira di Desa B menargetkan penanaman 5.000 bibit mangrove dalam setahun.
- Diversifikasi Mata Pencaharian: Dengan naiknya air laut, pertanian tradisional di pesisir sering menjadi tidak mungkin karena intrusi air asin. PMI, bekerja sama dengan lembaga terkait, memberikan Pelatihan Kepemimpinan dan keterampilan baru bagi warga, misalnya dalam budidaya ikan atau udang air payau yang lebih tahan terhadap salinitas tinggi, sebagai Solusi Transisi ekonomi.
Integrasi dengan Program Kesehatan
Perubahan iklim juga membawa dampak kesehatan. Kenaikan suhu dan kelembapan dapat meningkatkan penyebaran penyakit yang dibawa oleh vektor (seperti nyamuk). Oleh karena itu, Program Kebersihan Lingkungan (WASH) PMI diintegrasikan dengan upaya adaptasi iklim, termasuk kampanye kesehatan dan pencegahan wabah di lingkungan pesisir yang lembap. PMI menjadi mitra esensial dalam memastikan bahwa masyarakat pesisir tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tantangan lingkungan yang terus berubah.
