Kemandirian Produk Darah Nasional Jadi Prioritas BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia menempatkan kemandirian produk darah nasional sebagai prioritas utama. Hal ini sangat krusial mengingat kebutuhan produk darah derivat plasma (PODP) terus meningkat di Indonesia. Namun, hingga kini Indonesia masih sangat bergantung pada impor dari negara lain.

Kepala BPOM, Penny K. Lukito, berulang kali menegaskan pentingnya kemandirian ini. Ia menekankan bahwa ketersediaan dan keamanan produk darah adalah vital bagi kesehatan masyarakat. BPOM berperan aktif mengawal proses ini, mulai dari bahan baku hingga produk jadi.

Salah satu tantangan utama adalah belum adanya fasilitas fraksionasi plasma yang memadai di Indonesia. Fasilitas ini berfungsi mengolah plasma darah menjadi berbagai obat esensial seperti albumin dan faktor pembekuan. BPOM terus mendorong pembangunan fasilitas ini.

BPOM juga berupaya membangun sinergi dengan berbagai pihak terkait. Meliputi Kementerian Kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI), dan industri farmasi. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan industri fraksionasi plasma dalam negeri.

Untuk menjamin mutu dan keamanan produk darah, BPOM secara ketat menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Unit Transfusi Darah (UTD) sebagai penyedia bahan baku plasma harus tersertifikasi CPOB. Saat ini, ada 19 UTD yang telah memperoleh sertifikat ini.

BPOM juga terus memberikan pendampingan berkelanjutan kepada UTD. Baik melalui pelatihan, workshop, maupun asistensi regulatori. Ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan memastikan standar kualitas plasma. Plasma yang aman dan bermutu adalah kunci.

Kebutuhan akan PODP di Indonesia terus melonjak. Ini didorong oleh peningkatan kasus penyakit seperti kanker, hemofilia, dan kondisi kritis lainnya. Ketergantungan pada impor tidak hanya mahal, tetapi juga berisiko saat terjadi krisis global.

Melalui berbagai forum komunikasi lintas sektor, BPOM mengidentifikasi kendala. Serta mencari solusi bersama untuk percepatan pengembangan industri fraksionasi plasma. Investasi besar dan dukungan pemerintah memang sangat dibutuhkan.

Dengan komitmen kuat BPOM dan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Diharapkan Indonesia dapat segera mewujudkan kemandirian produk darah nasional. Ini adalah langkah strategis menuju ketahanan kesehatan yang lebih baik.