Bandung dan wilayah sekitarnya dikenal memiliki topografi pegunungan dengan suhu udara yang bisa turun drastis, terutama pada malam hari atau saat musim hujan ekstrem. Dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) di kawasan hutan seperti Tangkuban Perahu atau Ciwidey, ancaman terbesar bagi korban yang tersesat bukanlah hewan buas, melainkan hipotermia. Untuk mengatasi kondisi medis yang mematikan ini, tim relawan sering kali mengandalkan sebuah alat yang tampak sangat sederhana namun memiliki teknologi tinggi, yaitu emergency blanket atau yang lebih dikenal oleh warga lokal sebagai jaket alumunium. Benda yang hanya setipis kertas ini menjadi garda terdepan dalam menjaga suhu tubuh manusia tetap stabil di tengah paparan udara dingin yang ekstrem.
Secara teknis, lembaran tipis ini terbuat dari bahan metalized polyethylene terephthalate (mPET). Sifat utama dari material alumunium yang dilapiskan pada plastik tipis ini adalah kemampuannya untuk memantulkan kembali radiasi panas tubuh hingga 90 persen. Ketika seseorang mengalami kecelakaan atau terjebak dalam cuaca dingin, tubuh mereka kehilangan panas melalui radiasi, konveksi, dan konduksi. Tanpa perlindungan yang tepat, organ-organ vital akan mulai melambat fungsinya. Jaket atau selimut darurat ini bekerja dengan cara memerangkap panas yang keluar dari kulit dan mengembalikannya ke tubuh, menciptakan mikroklimat yang hangat di dalam bungkusan tersebut.
Penggunaan material ini di lapangan memerlukan teknik khusus agar efektifitasnya maksimal. Tim relawan di Bandung dilatih untuk membungkus korban dengan rapat namun tetap menyisakan sedikit ruang udara di dalam, karena udara itu sendiri berfungsi sebagai isolator tambahan. Keunggulan utama dari perangkat berbahan alumunium ini adalah bobotnya yang sangat ringan dan ukurannya yang sangat kecil saat dilipat, sehingga setiap relawan bisa membawa belasan lembar di dalam tas mereka tanpa menambah beban signifikan. Hal ini sangat krusial dalam pendakian atau evakuasi di medan terjal di mana setiap gram beban sangat diperhitungkan oleh tim penyelamat.
Selain fungsinya sebagai penahan panas, warna perak yang mengkilap dari lapisan ini juga memiliki kegunaan taktis lainnya. Dalam kondisi hutan yang rimbun atau saat cuaca berkabut, permukaan yang reflektif memudahkan tim pencari dari udara (helikopter atau drone) untuk menemukan posisi korban. Cahaya matahari atau lampu senter yang mengenai permukaan alumunium akan terpantul dengan kuat, menciptakan sinyal visual yang sangat mencolok di tengah kegelapan atau hijaunya pepohonan. Dengan demikian, benda tipis ini menjalankan peran ganda: melindungi nyawa secara biologis sekaligus mempercepat proses evakuasi melalui bantuan navigasi visual.
