Banjir rob menjadi ancaman berulang bagi wilayah pesisir Jakarta, termasuk beberapa area perkotaan yang rendah. Fenomena pasang air laut tinggi ini seringkali merendam jalanan dan permukiman, melumpuhkan aktivitas warga dan menyebabkan kerugian. Namun, di tengah kepungan rob, ada satu profesi yang justru sibuk luar biasa: para montir kendaraan bermotor.
Ketika Banjir Rob Jakarta melanda, banyak kendaraan yang nekat menerjang genangan air tinggi. Akibatnya, mesin kendaraan seringkali mengalami kerusakan parah. Mulai dari busi basah, sistem kelistrikan yang korslet, hingga mesin yang kemasukan air atau biasa disebut water hammer. Kondisi ini tentu saja menjadi berkah tersendiri bagi bengkel dan montir.
Para montir di kawasan terdampak rob mendadak kebanjiran order. Antrean panjang kendaraan yang mogok atau rusak akibat terendam air menjadi pemandangan biasa. Mereka harus bekerja ekstra keras, bahkan hingga larut malam, untuk mengatasi berbagai keluhan mesin yang diakibatkan oleh air rob yang korosif.
Kerusakan paling umum yang ditangani montir adalah sistem pengapian yang terganggu. Busi yang basah atau kotor membuat mesin sulit menyala. Selain itu, air juga bisa masuk ke ruang bakar atau tangki bahan bakar, menyebabkan performa mesin menurun drastis. Biaya perbaikan pun tidak murah, apalagi jika terjadi water hammer yang bisa merusak komponen vital.
Fenomena ini juga menunjukkan kurangnya edukasi dan kesadaran sebagian pengendara akan bahaya menerobos genangan air tinggi. Menerjang rob berisiko besar merusak kendaraan dan dapat membahayakan keselamatan. Lebih baik mencari rute alternatif atau menunggu air surut daripada mengambil risiko yang tidak perlu.
Bagi para montir, musim rob adalah musim panen. Namun, di sisi lain, ini adalah cerminan dari masalah kronis banjir di Jakarta. Solusi jangka panjang untuk mengatasi rob, seperti pembangunan tanggul laut raksasa dan normalisasi sungai, menjadi sangat mendesak untuk melindungi warga dan infrastruktur dari ancaman abadi ini.
Meskipun aktivitas montir meningkat drastis saat rob, hal ini bukanlah solusi yang berkelanjutan. Yang dibutuhkan adalah upaya komprehensif untuk menanggulangi rob secara permanen. Hanya dengan begitu, masyarakat bisa beraktivitas normal tanpa harus khawatir kendaraan mogok, dan montir bisa fokus pada perawatan rutin, bukan perbaikan darurat akibat bencana.
